Menangani perkara hukum Perceraian Gono Gini Hak Asuh Anak Waris Perdata Tipikor di PA / PN seluruh Jawa Tengah dan Indonesia

MASA IDDAH BAGI SUAMI

PEMBERLAKUAN SYIBHUL IDDAH BAGI SUAMI
Wacana Antisipatif Terhadap Penyelundupan Hukum
Oleh : Drs. H. Abd. Halim Ibrahim, MH
Ketua Pengadilan Agama Pandan

A. Pendahuluan
Putusnya perkawinan dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan adalah dengan sebab kematian, perceraian dan atas putusan pengadilan.
Putusnya perkawinan dengan sebab kematian adalah pada saat ikatan perkawinan masih ada, salah satu dari suami isteri meningal dunia. Apabila suami yang meninggal dunia maka isteri wajib menjalani iddah selama empat bulan sepuluh hari. 
Sedangkan putusnya perkawinan dengan sebab perceraian adalah disebabkan suami mentalak isterinya di depan pengadilan atau isteri menuntut cerai akibat suami melanggar taklik talaknya.
Talak menurut bahasa adalah melepaskan ikatan, sedangkan menurut istilah Mazhab Hanafi dan Hambali mendefinisikannya sebagai pelepasan ikatan perkawinan secara langsung atau pelepasan perkawinan di masa akan datang. Sedangkan Mazhab Syafi’i mendefinisikan talak sebagai pelepasan akad nikah dengan lapal talak atau yang semakna dengan lapal itu.(1) 
Berdasarkan defenisi ini, baik talak bain maupun talak raj’i, akibat hukumnya langsung berlaku ketika pernyataan talak disampaikan suami dan segala resiko talak tersebut berlaku untuk kedua belah pihak.
Hensyah Syahlani memberikan definisi kata perceraian, (bukan kata talak), yakni sebagai suatu keadaan di mana antara seorang suami dan seorang isteri telah terjadi ketidakcocokan batin yang berakibat pada putusnya tali perkawinan melalui putusan pengadilan. (2)

Entri Populer